Trenz Indonesia
News & Entertainment

Pendiri PARFI 1956 : Marcella Lupakan Sejarah

39

Jakarta, Trenz Film | Carut marut PARFI (Persatuan Artis Film Indonesia) pasca Ketua Umum PARFI, Gatot Brajamusti tersangkut narkoba di tahun 2016 lalu, akhirnya melahirkan terbentuknya PARFI 1956 yang digagas sekaligus diinisiasi oleh beberapa artis Senior.

Nama PARFI 1956 merujuk pada awal pertama kali PARFI didirikan sementara beberapa artis senior yang bisa dibilang sebagai pendiri PARFI 1956, diantaranya Ki Kusumo, Debby Cinthya Dewi, Kamel Marvin, Ade Muftin, Dharti Manullang, Adhi Kusuma, Dessy Suyrawati, dan Drs. Syahrully Jangsem (Rully).

“Kita ingin PARFI kembali seperti awal pertamakali didirikan. Anggotanya tidak hanya artis, tetapi ternasuk juga karyawan film dan pekerja seni lainnya,” kata Kamel Marvin, inisiator pendirian PARFI 56.

Dengan mempercayakan untuk dikendalikan oleh artis muda, lewat musyawarah kekeluargaan yang berlangsung di Bebek Jumbo, Kemang, jakarta selatan, pada tanggal 1 Oktober 2016, para artis senior tersebut mendukung terpilihnya Marcella Zalianti sebagai Ketua PARFI 1956,  dengan aktor senior Ray Sahetapy yang menjadi Wakilnya. Selanjutnya, keberadaan PARFI 1956 dibuatkan dalam bentuk akte pendirian organisasi yang disahkan oleh Kemenkumham pada tanggal 24 Oktober 2016.

Namun perjalanan PARFI 1956 yang baru seumur jagung ini pun sepertinya tak berjalan mulus seperti yang diharapkan.

Sempat merayakan ulangtahunnya yang pertama di tahun 2017, namun PARFI 1956 tidak menjadikannya sebagai agenda rutin tahunan.

Hal ini yang menjadi kekecewaan dan kegeraman bagi sebagaian besar para pendiri PARFI 1956, bahkan juga menilai langkah Marcella sudah melenceng dari tujuan semula. Marcella seolah ingin menutupi sejarah berdirinya PARFI 56, melupakan hari lahir PARFI 56 dengan cara tidak mengadakan acara ulang tahun PARFI 56 yang ketiga.

Dirunut kebelakang, ternyata bibit kekecewaan para pendiri PARFI 56 telah timbul sejak acara pelantikan Pengurus PARFI 56 yang berlangsung di Hotel Four Season Jakarta, 24 Oktober 2016. Dalam acara tersebut hanya nama Debby Cinthia Dewi, Ade Muftin, Gusti Randa dan Octaviaviza SM yang masuk dalam gerbong PARFI 56 dengan Debby Cinthia Dewi menjadi Ketua DPO.

“Jangankan ulang tahun organisasi, wong kita sebagai pendiri saja dilupakan. Kami seperti dianggap tidak ada.Padahal kami lah yang berjuang siang malam untuk keberadaan PARFI 1956. Waktu itu saya udah marah banget, hampir saya lemparin meja kalau enggak ditahan teman-teman. Kalau enggak, mungkin saya udah melanggar hukum,” kata Ki Kusumo yang didampingi artis senior Lela Anggraini, Kamel Marvin dan Syahrully Jangsem (Rully),  mewakili para pendiri PARFI 1956 lainnya, saat gelar pertemuan dengan awak media, di RM Padang Simpang Raya, Kota Bogor, Sabtu (2/11).

Lela Anggraini & Ki Kusumo

“Padahal dari awal kita sudah habis-habisan buat mendirikan organisasi. Kita kumpul enggak kenal capek, dari pagi sampe malam, dari malam sampe pagi. Yang lelaki diomelin isteri di rumah, yang perempuan dimarahin suami. Biaya juga tak terhitung. Jadi perjuangannya luar biasa,” lanjut Ki Kusumo.

Menurut Lela Anggraini, sejak terpilih sebagai Ketua Umum PARFI 56, sepertinya secara diam diam Marcella Zalianti bersama Debby Cinthia Dewi dan beberapa pendiri lain, memiliki agenda dan rencana sendiri.

“Anehnya, dalam setiap kegiatan yang diadakan, Debby Cinthia Dewi selalu minta dibiayai.” Jelas Lela Anggraini.

Terlebih lagi, berdasarkan Informasi yang diperoleh para pendiri PARFI 1956, dalam rapat pengurus PARFI 1956 pada 19 September 2019 diputuskan, bahwa organisasi tersebut lahir tahun 1956. Padahal berdasarkan akte pendirian organisasi, PARFI 1956 baru disahkan oleh Kemenkumham pada tanggal 24 Oktober 2016 dengan nomor pendirian AHU-0076620.AH.01.01 tahun 2016.

“Kami lihat PARFI 56 di bawah Marcella sudah melenceng jauh. Mereka sengaja menghapus sejarah berdirinya PARFI 56, dan tidak pernah mengakui kami sebagai pendiri. Padahal kami yang susah payah melahirkan PARFI 1956. Kami yang mengajak dia, kok bisa lupa. Itu kan Malin Kundang namanya,” kata Ki Kusumo.

Sebenarnya kata Kamel menimpali, upaya untuk menyingkirkan sudah dirasakan. Sejak pelantikan pengurus PARFI 1956 di salah satu hotel megah di kawasan Jakarta Selatan.  “Kami diamkan dulu. Masa baru berdiri sudah diributkan, tapi setelah sudah tiga tahun tidak ada upaya perbaikan sesuai tujuan pendirian PARFI 1956, ya, kami pertanyakan,” ujar Kamel geram.

Rully pun membenarkan bahwa kekesalan para pendiri akhirnya mencuat setelah PARFI 56 tidak merayakan HUT ketiga PARFI 56 sesuai akta pendirian.

“Dari info yang kami dapat, mereka mengaku lahir tahun 1956. Lah logikanya di mana? Jejak digitalnya ada semua, kamilah yang melahirkan PARFI 1956! Itulah makanya sekarang kami berkumpul lagi untuk meluruskan sejarah,” kata Rully.

Lela Anggarini kembali menyampaikan bahwa kegeraman ini timbul setelah ada info bahwa nama para pendiri sengaja dihilangkan dari akte pendirian. “Ini upaya melupakan sejarah, masa kami yang berkorban siang malam, baik pikiran, tenaga dan uang. Eh, orang yang tidak ada pengorbanannya malah menikmatinya. Etika nya dimana,”kata Lela dengan nada tinggi.

Kamel pun menambahkan bahwa dalam pantauan para pendiri, perjalanan PARFI 1956 sudah melenceng dari tujuan utama pendirian organisasi yang lahir 24 Oktober 2016.

“Mestinya mereka perkuat kedalam dulu, jangan banyak melantik pengurus DPD. La, ini pengurus kok gila melantik,” tukas Kamel sengit.

Karenanya, apabila peringatan para pendiri diabaikan pengurus, maka dewan pendiri akan bersikap tegas.

“Kalau peringatan keras kami kali ini tidak diindahkan. Maaf kami akan ambil alih,” pungkas Ki Kusumo. (PR/Fajar) | Foto: Fajar

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.