Trenz Indonesia
News & Entertainment

Iwan Fals Dan Radhar Panca Dahana : Basmalah Di LALUKAU

453

Jakarta, Trenz Corner | ‘Basmalah’. Itu judul nyanyian puisi Iwan Fals yang berkolaborasi bersama Radhar Panca Dahana, Deddy Mizwar, Niniek L Karim, Aning Katamsi dan Bianglala Voices yang terlantun diakhir pertunjukan pentas multimedia Teatrikal ‘Puisi” Spiritual “LALUKAU”  persembahan Teater Kosong yang disutradarai oleh Radhar Panca Dahana, dan dihelat di Gedung Kesenian Jakarta, pada 18-19 Februari 2020 lalu.

Meski aksinya telah berlalu beberapa bulan lalu, namun nafas religi yang menjadi kekuatan dari lagu ‘Basmalah’ tersebut masih relevan untuk dinikmati disaat bulan Ramadan kali ini. Terlebih, kepiawaian pemusik Teater Kosong, Yaser Arafat Ensemble mampu memilih komposisi musik yang sangat serasi saat mengiringi lagu Basmalah dengan balutan orkestrawi, hingga semakin membuatnya padu sebagai lagu religi, di atmosfir bulan suci.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Lirik ‘Basmalah’ ini, sesungguhnya adalah sebuah puisi dari buku kumpulan puisi terbarunya yang bertajuk LALUKAU. Diciptakan oleh Radhar Panca Dahana, yang kita kenal sebagai budayawan. Ia, selain mencipta puisi, juga pegiat teater yang tangguh, sekaligus sebagai pemikir seni, tentunya. Pemikirannya, antara lain, bisa kita simak melalui halaman Opini di Harian Kompas.

 

ketika bantinmu kering dari sabar

apa yang rajin kau dengar

segala kabar

juga syiar yang kasar

 

Itu petikan nyanyian ‘Basmalah’. Bukankah salah satu hakekat puasa adalah memupuk kesabaran? Bukankah saat berpuasa kita hendaknya menjaga panca indera dari hal-hal yang kasar? Karena itu, menjauhlah dari situasi yang berpotensi mengurangi nilai puasa kita. Kendalikan diri agar tak melakukan tindakan yang merusak keabsahan puasa.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pada prinsipnya, puasa adalah menahan diri, mengendalikan diri. Pada saat yang bersamaan, lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan melakukan beragam ibadah. Bukan hanya ibadah wajib, tapi juga ibadah sunah. Ada yang menyebut, berpuasa adalah momentum untuk mengheningkan diri dari hiruk-pikuk dunia.

Ada pula yang berkata, bulan puasa adalah bulan evaluasi. Maksudnya, sebulan dari dua belas bulan yang ada, kita alokasikan waktu untuk mengevaluasi diri. Baik secara jiwa, maupun secara raga. Barangkali ada perilaku kita yang berlebihan. Barangkali jiwa kita sudah mulai kebal, hingga tak lagi tersentuh melihat kesusahan orang lain.

Tak lagi bisa merasakan problem yang dihadapi, setidaknya oleh orang-orang di sekitar kita. Bulan puasa adalah bulan yang tepat untuk mengasah kembali jiwa-jiwa yang telah tumpul. Di satu sisi kita diminta untuk menahan diri. Di sisi lain, kita sangat dianjurkan untuk banyak-banyak memberi. Bersedekah. Berinfag.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Semua itu bukanlah hal yang mudah. Mengendalikan diri sendiri, seringkali jauh lebih sulit, dibanding mengatur orang lain. Untuk mengevaluasi diri, untuk membenahi diri, kita ya harus bekerja keras. Bangun tengah malam untuk sahur serta melalui siang tanpa makan dan minum.

 

bila keras kerja membuatmu tak tahan

terus mengeluh

mana mungkin kau sebut nama Tuhan

bila sejak mula di batinmu Ia raib

 

Mari berbenah, membenahi jiwa-raga di bulan yang suci ini. Kalau bukan kita sendiri yang membenahi diri, siapa lagi?. (Isson Khairul & Fajar) | Video : Isson Khairul, Foto: Fajar Irawan.

Leave A Reply

Your email address will not be published.